Banjiiiir Banjiiiirrrrrr Banjiiiirrrrr
Lagi-lagi Jakarta "dapet hadiah." Di periode yang sama lagi, Januari-Februari. Bulan depan belum tentu banjir sih, tapi yah anggaplah satu dwiwulan yang sama hehe. Banjir di Jakarta udah jadi bencana tahunan, yang "dirayakan" setiap setahun sekali. Bisa jadi lebih, mengingat cuaca udah gak bisa ditebak lagi. Dulu kita masih bisa meraba-raba, katanya kalo bulan yang akhirannya "er" seperti September, Oktober, November, Desember, itu musim hujan. Tapi nyatanya sekarang udah gak gitu lagi, kadang hujan, kadang panasnya gila-gilaan.
Walaupun di beberapa media disebutkan bahwa curah hujan tahun ini lebih rendah dibanding tahun yang lalu, tapi dampaknya, menurut gue, jauh lebih besar. Kayaknya dulu gak sampe deh di Kampung Pulo sedalam 5-6 meter. Dan paling 1-2 hari udah surut, warga udah bisa balik kerumah, dan bersih-bersih. Tapi saat tulisan ini diterbitkan, ini udah hari kelima, dan BMKG sendiri memprediksi curah hujan akan masih tinggi sampai tanggal 22 Januari. Bagi yang terkena musibah, gue turut berduka cita, semoga musibah ini cepat berlalu.
Hari Minggu kemarin, gue nonton Mario Teguh. Topiknya "Bersabar Dalam Bencana," gue gak nonton semua tapi gue nonton saat segmen yang mempertemukan si Mario Teguh dengan 4 orang korban banjir, yang sebagian besar (kalo gak salah) tinggal di Kampung Pulo. Menarik nih, karena akhirnya, kali ini ada orang yang bener-bener susah hidupnya, yang berdiri di depan dan ngomong langsung sama si MT. Bukan mahasiswa galau, bukan
fresh graduate sok idealis, bukan orang dewasa muda yang merasa dirinya pantas digaji tinggi. Kali ini, orang-orang berekonomi menengah ke bawah, bertingkat pendidikan rendah, dan bisa jadi jarang-jarang nonton
newschannel. Orang-orang yang merasakan kerasnya hidup, dan bisa dibilang hampir mustahil dirubah cara pandangnya.